Penulis |Editor : IrmaJaya

Gambar ; Suasana Diskusi sambil Silaturahmi tim penyuluhan karhutla Mabes TNI sebelum kembali ke Jakarta (doc.TNI)
Paser Kalimantan Timur;
Ramah dan mudah akrab itulah Brigjen TNI Joko Setyo Putro “Pimpinan” Tim Pemyuluhan Karhutla Mabes TNI bertugas di Kabupaten Paser selama 30 hari.
Mengenal Kota Tanah Grogot hingga Desa disekitaran ibukota Kabupaten tidak di ketahuinya lewat berkeliling dengan mobil, namun pencinta excersise “run and jogging” itu mengelilingi kota hingga ke wilayah Desa Tepian Batang di “potret” nya sambil membugarkan tubuh.
Jenderal berperawakan tinggi semampai itu , prediksi lebih 180 cm juga “korektif” berbahasa melalui chat secara singkat dia mengurai bahwa dirinya adalah Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI adapun Pasis Sesko TNI mengintegrasikan ke dalam Tim Penyuluhan Karhutla seperti telah diurai diatas.
Mengapa Brigjen TNI Joko pulang paling akhir ,karena penugasan yang di emban nya berdurasi 30 hari ; maka Tim Penyuluh dibawah koordinasinya bakal membawa sejumlah informasi dan berbasis fakta ihwal Karhutla tadi. Durasi penugasan berbeda, maka Brigjen Joko bertahan saat limit waktu penugasan sudah berakhir.”Pasis Sesko sudah duluan kembali”, ringkas Joko.
Begitupun yang bertugas di Kabupaten PPU juga berkesesuaian dengan penjelasan tersebut sebagai informasi Sekda PPU Tohar dimana Tim Penyuluhan Karhutla di wilayah Pemerintahan Penajam dipimpin oleh Brigjen TNI Firmansyah.
Tohar atas nama Pemerintah Kabupaten PPU sangat memberi penghargaan terhadap atensi Mabes TNI – dimana penugasan adalah hasil kepekaan Mabes terhadap fenomena penetrasi El Nino.
Meskipun jajaran Pemkab PPU ,juga Pemprov sudah mengerjakan “penyuluhan” pula, namun menyajikan penyuluhan di saat kejadian beruntun yang faktual akan lebih mengena, apalagi di sampaikan oleh tim penyuluhan dari Markas Besar TNI tentu lebih menjadi perhatian.
Lebih jauh Tohar mengurai bahwa penyuluhan yang sama di kerjakan pada momentum sejumlah kejadian Karhutla akan menghantarkan “sikap mental” untuk menjaga keselamatan lingkungan dan menjadi kebersamaan mencegah Karhutla serta menghimpun sensitivitas bersama dalam memproteksi. “Terbentuknya kesepahaman ; mencegah lebih utama dari pada langkah Pemadaman adalah sikap mental yang ditargetkan terbentuk” ungkap Tohar《Bersambung》